Minggu, 21 Maret 2010

HMM..


.......♥#########♥
.....♥#############♥
...♥###############♥
..♥#################♥..................♥###♥
..♥##################♥..........♥#########♥
....♥#################♥......♥#############♥
.......♥################♥..♥###############♥
.........♥################♥################♥
...........♥###############################♥
..............♥############################♥
................♥#########################♥
..................♥######################♥
....................♥###################♥
......................♥#################♥
........................♥##############♥
...........................♥###########♥
.............................♥#########♥
...............................♥#######♥
.................................♥#####♥
...................................♥###♥
.....................................♥#♥
.......................................♥
.......................................♥
.....................................♥
...................................♥
.................................♥
..............................♥
............................♥
.........................♥
......................♥
..................♥
.............♥
.........♥
......♥
....♥
......♥......................♥...♥
..........♥.............♥............♥
..............♥.....♥...................♥
...................♥.....................♥
................♥......♥..............♥
..............♥.............♥....♥
.............♥
...........♥
..........♥
.........♥
.........♥
..........♥
..............♥
...................♥
..........................♥
...............................♥
.................................♥
.................................♥
..............................♥
.........................♥
..................♥
.............♥
.....♥
...♥
.♥.............................♥....♥
♥..........................♥...........♥
.♥......................♥................♥
..♥...................♥..................♥
...♥....................................♥
.....♥................................♥
........♥.........................♥
...........♥...................♥
..............♥..............♥
..................♥.......♥
.....................♥..♥
.......................♥

Senin, 14 September 2009

un Lebong Neak Rantau

Adalah perkumpuln anak/pelajar yang berasal
dari suatu daerah yang terletak di
Provinsi Bengkulu,
tepatnya di Kabupaten Rejang Lebong.
Perkumpulam ini di buat atas dasar keinginan membentuk perkumpulan
anak/pelajar yang bera
da di rantau.
Di mana pun berada khususnya di
Jakarta.dan buat temen-temen rantau silakan bergabung.












Merantau merupakan suatu hal yang
di lakukan
atas dasar keinginan untuk mencacari/mendapatkan suatu pengalaman....
dan berkeinginan mengubah/menggapai cita-cita
kita semua.
Hidup di rantau tidak lah mudah berbagai tantangan yang kita hadapi,
baik itu susah atau
pun senang.
Dengan perkumpulan
Tun Lebong Neak Rantau ini kita semua dapat berbagi.......
Pengalaman, dan saling tolong di antara kita semua .................
Dengan grup juga temen-temen semua di mana pun berada, bisa berbagi
cerita, pengalaman atau pun saling tukar imformasi.

Tun Lebong Neak Rantau

Tidak hanya Merupakan kumpulan anak/pelajar dari lebong saja, tetapi temen-temen rantawan di mana pun berada juga dapat bergabung di sini.. Agar kita semua dapat saling berbagi pengalaman, imformasi dan sebagainya.......................................

Sejarah Propinsi Bengkulu dari Kemerdekaan Indonesia Hingga Terbentuk menjadi Propinsi Bengkulu

Label:
Ir. Herawansyah, M.Sc., MT

PENDAHULUAN
Pada tanggal 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia diumumkan kepada dunia internasional melalui radio oleh Sukarno dan Muhammad Hatta di tempat kediaman Sukarno Jalan Pegangsaan Timur (sekarang jalan Proklamasi No. 59) Jakarta. Proklamasi tersebut merupakan suatu gerakan besar seluruh rakyat Indonesia yang ingin merdeka dan membentuk negara sendiri yang terbebas dari penjajahan.

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Sukarno dan Muhammad Hatta terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Berita proklamasi tersebut pada tanggal 20 Agustus 1945 diterima secara resmi di Kota Bengkulu dan dibentuklah suatu badan yang menyusun pemerintah Republik Indonesia di Bengkulu.

Pada tanggal 3 Oktober 1945, Ir. Indra Tjaya diangkat oleh Mr. T.M. Hasan (Gubernur Sumatera yang berkedudukan di Pematang Siantar – Sumatera Utara) sebagai Residen Bengkulu. Setelah beliau diangkat sebagai Residen Bengkulu, Ir. Indra Tjaya mengadakan perundingan dengan Residen (Syucokang) Jepang, Z. Inomata untuk menyerahkan daerah Keresidenan Bengkulu kepada Pemerintah Republik Indonesia. Setelah diadakan beberapa kali perundingan maka pada tanggal 27 Oktober 1945, dilakukan penyerahan Pemerintahan Keresidenan Bengkulu oleh Jepang kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Pada awal tahun 1946, terjadilah krisis pemerintahan sipil di Bengkulu, dimana Badan Pekerja Harian Nasional Indonesia (BPHNI) menuntut reorganisasi pemerintahan diseluruh Keresidenan Bengkulu, akibatnya pada tanggal 21 Naret 1946 Residen Ir. Indra Tjaya secara resmi meletakkan jabatan. Tanggung jawab sebagai residen sepenuhnya diserahkan kepada BPHNI dan pada tanggl 23 Maret 1946 BPHNI mulai melaksanakan reorganisasi pemerintahan diseluruh Keresidenan Bengkulu.

Namun karena terjadinya kekisruan yang diakibatkan tidak diakuinya BPHNI oleh sebagian besar Kepala Marga di Curup maka pada tanggal 28 April 1946, Mr. Hazairin (Ketua Pengadilan Negeri Sibolga – Putera Daerah Bengkulu) diangkat oleh Mr. T.M. Hasan sebagai Residen Bengkulu. Mr. Hazairin dengan segala kemampuannya segera bertindak untuk kembali menyusun pemerintahan daerah Bengkulu yang morat marit dengan bijaksana serta tidak merugikan pihak manapun malahan seluruh komponen diajak melaksanakan tugas, kewajiban dan tanggung jawab secara bersama-sama.

Berdasarkan Undang-undang RI Nomor 10 tanggal 15 April 1948, Provinsi Sumatera dibagi menjadi 3 (tiga) Provinsi, yaitu Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Sumatera Tengah dan Provinsi Sumatera Selatan dan di atasnya, sebagai wakil Pemerintah Pusat RI dibentuk Lembaga Komisariat Pemerintah Pusat yang berkedudukan di Kota Bukit Tinggi dimana Mr. T.M. Hasan sebagai Ketua dan Mr. A. Sidik sebagai Pemimpin Sekretariat Pemerintah Pusat.

Dengan ketetapan undang-undang Nomor 10 tersebut, Keresidenan Bengkulu yang tadinya dalam lingkungan Provinsi Sumatera masuk kedalam lingkungan Provinsi Sumatera Selatan dengan Gubernur M. Isa yang berkedudukan di Kota Curup.

Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda melanggar perjanjian Renville dengan menyerang daerah-daerah Republik Indonesia yang masih belum didudukinya termasuk Keresidenan Bengkulu.

Pada tanggal 25 Desember 1947, Gubernurr M. Isa telah berada di Kota Curup mengepalai pemerintahan Provinsi Sumatera selatan.

Pada tanggal 23 Desember 1948, Daerah Sumatera Selatan dijadikan satu Daerah Militer dibawah pimpinan A.K. Gani sebagai Gubernur Militer yang juga berkedudukan di Kota Curup. Akibat agresi Militer Belanda tersebut, Gubernur M. Isa, Gubernur Muiliter A.K. Gani dan Residen M. Hazairin menyingkir ke Kota Muara Aman dan Pemerintahan Provinsi Sumatera Selatan dipindahkan ke Kota Muara Aman.

Pada tanggal 26 November 1949, di Bengkulu Selatan dibentuk satu Delegasi Militer dibawah pimpinan Letnan Kolonel Barlian, Komandan Sub Territorium Bengkulu, untuk menerima serah terima seluruh daerah Bengkulu dari Belanda. Delegasi ini sampai di Kota Bengkulu pada tanggal 29 November 1949, pada tanggal 30 November 1949 sampai di Bengkulu Delegasi Pemerintahan Sipil dari Bengkulu Utara yang dipimpin oleh Mr. Hazairin, Wakil Gubernur Militer Daerah Istimewa Sumatera Selatan.

Sejak tanggal 2 Desember 1949 dari Kota Bengkulu, Komandan Sub Territorium Bengkulu memberikan instruksi seperlunya mengenai segala hal yang menyangkut pengisian daerah-daerah yang akan ditinggalkan pasukan Belanda.

Mulai tanggal 7 sampai dengan 10 Desember 1949 TNI mengisi kembali tempat-tempat yang telah ditinggalkan Belanda, yaitu pada tanggal 8 Desember 1949 TNI masuk ke Kepahiang dan Curup, 10 Desember masuk ke Muara Aman dan 11 Desember 1949 masuk ke Kota Bengkulu, sehingga mulai tanggal 11 Desember kekuasaan Belanda dalam wilayah Keresidenan Bengkulu telah berpindah kembali kepada Negara Republik Indonesia (NRI).

Pada tanggal 11 Desember 1949 juga dikeluarkan 1 (satu) Maklumat kepada seluruh penduduk dalam Keresidenan Bengkulu yang ditandatangani oleh Mr. Hazairin, Residen Bengkulu, dan Barlian, Letnan Kolonel Komandan Sub Territorium Bengkulu, yang berbunyi :

MAKLUMAT
1. Diberitahukan kepada seluruh penduduk Daerah Bengkulu, bahwa mulai tanggal 11 Desember 1949, kekuasaan Belanda dalam Wilayah Territorial Bestuurs Adviseur Bengkulu (TBA) di Keresidenan Bengkulu telah berpindah kembali seluruhnya kepada Negara Republik Indonesia (NRI).
2. Dengan pemindahan kekuasaan itu, maka sempurnalah sudah pelaksanaan “cease hostilities” (penghentian perusuhan) antara Belanda dengan Republik Indonesia bagi daerah Bengkulu (bagi lain-lain daerah Republik sedang disempurnakan), sehingga dengan demikian bersihlah jalan menuju pemindahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda dan Negara Republik Indonesia (NRI) kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) yang akan berlaku beberapa minggu lagi.
3. Dengan pemindahan kedaulatan itu, maka NRI akan menjadi negara bagian dalam RIS, dan akan berdiri pula perikatan kerja sama (uni) antara Kerajaan Belanda dan RIS yang merupakan pertalian persahabatan yang sangat akrab.
4. Diperintahkan kepada tiap-tiap orang bahwa kita bangsa Indonesia tidak lagi bermusuh-musuhan dengan bangsa Belanda , dengan demikian tentu juga tidak lagi bermusuh-musuhan dengan orang-orang yang pernah bekerja sama atau membantu Belanda selama perjuangan antara Republik Indonesia dengan Belanda pada masa sedih yang telah silam.
5. Sekarang diseluruh daerah Bengkulu dipertanggungjawabkan kepada TNI buat menjaga dan menjamin ketertiban umum, ketenteraman dan keselamatan bagi semua orang tidak pandang siapa dia, meskipun bekas penghianat bangsa sekalipun. Dipermaklumkan, bahwa TNI tidak dibolehkan lagi mencampuri urusan Kepolisian biasa dan pemerintahan umum.
6. Keselamatan Jiwa, harta benda, rumah tangga dan perekonomian (perusahaan, perdagangan dan lalu lintas) dijamin oleh pemerintah NRI dengan semua alat-alat kekuasaannya.
7. Tidak dibolehkan orang merasa cemas atau takut atau was-was terhadap sesuatunya, jika ada perasaan yang serupa itu hendakla lekas dikemukakan kepada alat-alat pemerintahan.
8. Sebaliknya, tidak di izinkan orang mengadakan provokasi (bisikan-bisikan, hasutan-hasutan, kelakuan, dan perbuatan permusuhan) yang akan mendatangkan kekacauan, kecemasan, ketakutan, pendeknya yang hendak menggangu ketenteraman dan rukun damai dikalangan penduduk.
9. Barang siapa yang mengadakan provokasai sebagai dimaksud itu, akan dikenakan hukuman berat, mungkin sampai hukuman mati.
10. Semua peraturan yang berlaku saat itu, meskipun aturan-aturan Pemerintah TBA tetap berlaku asal tidak bertentangan dengan perjanjian-perjanjian Naskah Timbang Terima Kekuasaan yang telah ditandatangani tanggal 11 Desember 1949 dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar NRI, semuanya berlaku sampai tiba waktunya diubah oleh yang berhak mengatur.
11. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bengkulu (DPB) dan Dewan Kota Bengkulu dalam bentuk dan susunanya pada tanggal 19 Desember 1948 diperpanjang usianya sampai ia dibubarkan secara resmi.
12. Dewan-dewan marga, kepala-kepala marga, kepala-kepala dusun, kepala-kepala pasar, datuk-datuk di kota Bengkulu, pemangku-pemangku, dan pegawai-pegawai mesjid, berdasarkan aturan yang ditandatangani 11 Desember 1949, meskipun sekali ada diantaranya yang mendapat pengakuan dari Pemerintah TBA tetap bekerja terus sampai semuanya itu diubah atau diganti (atas alasan-alasan yang syah) menurut peraturan NRI dalam daerah Bengkulu bagi semua urusan tersebut. Jika disesustu tempa terdapat kebimbangan disebabkan adanya dua orang atau lebih kepala adat (atau pegawai-pegawai agama) yang menganggap dirinya sama-sama berkuasa, maka jika tidak ada ukuran yang lain buat menentukan siapa yang berhak benar, akan diadakan pemilihan selekas-lekasnya. Dalam menunggu pemilihan, maka kepala adat (atau pegawai agama) yang ditunjuk oleh TBA itulah yang meneruskan pekerjaan buat sementara waktu.
13. Semua pegawai, meskipun yang diangkat oleh Pemerintah TBA tetap bekerja terus dalam pangkat dan derajatnya sebagai tercantum pada aturan tanggal 11 Desember 1949 sampai saat ini diadakan perubahan menurut “Naskah Timbang Terima Kekuasaan”.
14. Uang Belanda, uang NRI, uang daerah Dmiss, propinsi, dan keresidenan dipergunakan bersama-sama dalam bekas wilayah TBA tersebut atas kurs pasaran sampai urusan mata uang diatur lebih lanjut.
15. Rakyat dan semua penduduk dari seluruh lapisan, golongan partai dan kebangsaan, berkasih-kasihanlah kamu, hiduplah dengan tenteram, tolong-menolong, harga-menghargai, hormat-menghormati; hilangkan perasaan dendam, benci, dan permusuhan. Muda-mudahan Tuhan Yang Maha Esa menurunkan rahmat-Nya atas kita sekalian.

Pada tanggal 17 Agustus 1950 Negara RIS resmi dibubarkan dan dibentuk negara kesatuan baru yang diberi nama Republik Indonesia (RI), yang dibagi menjadi 10 provinsi yang mempunyai otonomi. Berdasarkan Undang-undang No. 3 tahun 1950 Junkto U. U No. 25 tahun 1959 ditetapkan sebagai keresidenan dalam lingkungan Provinsi Sumatera Selatan.

Pada tanggal 27 Desember 1949 keresidenan Bengkulu pulih kembali dan Bupati M. Hasan diangkat sebagai Residen Bengkulu. Kota Bengkulu merupakan kota yang mati lagi dan terisolisasi sama sekali dari dunia luar. Setelah negara kesatuan Republik Indonesia baru terbentuk pada tanggal 17 Agustus 1950, Pemerintah pusat hampir tidak memperhatikan keadaan didaerah, kabinet silih berganti sehinggah Pemerintah daerah terpaksa memecahkan keadaan daerahnya dengan caranya sendiri-sendiri, tanpa dana dan bantuan dari Pemerintah Pusat.

Keadaan terisolasi dan terbengkalai yang jauh dari sentuhan pembangunan selama lebih dari 30 tahun mengakibatkan daerah Bengkulu jauh ketinggalan hampir disegala bidang bila dibandingkan dengan daerah lain. Pada masa itu banyak orang Indonesia tidak mengetahui bahwa sebagian dari negara Kesatuan Republik Indonesia ini terdapat daerah Bengkulu yang merupakan komponen aktif dalam perjuanagan pembangunan bangsa dan negara Kesatuan RI.

Pada tahun 1950 sampai tahun 1966 adalah masa saling perebutan kekuasaan (kabinet) di antara partai-partai politik yang besar, di antaranya partai Masyumi, PNI, dan PKI dengan sistem demokrasi parlementer Eropa Barat. Sistem itu mengakibatkan tidak adanya stabilitas politik, inflasi, dan lambatnya rencana pembangunan.

Keadaan semakin mengkhawatirkan dengan timbulnya gerakan separatis “Republik Maluku Selatan”(RMS) dan gerombolan “Darul Islam” yang merongrong negara RI dan lainnya. Sehinggah terjadilah “Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia, atau dikenal denagn sebutan G. 30 S/PKI.

Pada tahun 1962 timbul Badan Perjuangan Bengkulu yang diprakarsai oleh sekelompok tokoh masyarakat daerah untuk menjadikan Bengkulu sebagai sebuah propinsi. Namun, perjuangan yang terjadi ditengah krisis politik dan ekonomi negara, ditambah dengan kuatnya pengaruh PKI pada pemerintah pusat di Jakarta. Dengan ditumpasnya G. 30. S/PKI dan terjadilah peralihan pemerintahan orde lama ke pemerintahan orde baru, membawa harapan pada perjuangan Bengkulu untuk menjadi provinsi harapan itu ternyata terwujud. Perjuangan selama ini dilakukan dengan gigih akhirnya berhasil.

Pada tanggal 18 November 1968, atas dasar UU No. 9/1967 Junkto Peraturan Pemerintah No. 20/1968, Keresidenan Bengkulu diresmikan menjadi salah satu Provinsi di Republik Indonesia yang ke-26 dengan Ali Amin sebagai Gubernur Bengkulu.

sumber :taneak jang>

Minggu, 13 September 2009

Potensi Propinsi Bengkulu


Sumber : indosiar.com

Propinsi Bengkulu terletak di Pantai Barat Pulau Sumatera dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dengan garis pantai sepanjang 530 kilometer. Ibukota provinsi ini baru terbentuk tahun 1968.Sebelumnya Kota Bengkulu hanya Ibukota Kabupaten Bengkulu Utara dan merupakan bagian dari Sumatera Selatan. Kota Bengkulu kini memiliki empat kecamatan yaitu Teluk Segara, Gading Cempaka, Kepahiang, dan Selabar.Sebagai kota pesisir, sebagian penduduknya menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Belakangan ini banyak perahu nelayan yang tidakberlayar. Hasil tangkapan ikan di laut semakin hari semakin berkurang. Ini akibat ulah nelayan dari luar Bengkulu yang menggunakan pukat harimau.Ekosistem di perairan Bengkulu menjadi terganggu. Menangkap ikan dengan menebar pukat di tengah laut, kini menjadi salah satu alternatif, meski yang diperoleh nyatanya lebih banyak ikan-ikan kecil seperti ini.Pelabuhan Bengkulu terletak di Pulau Baai, sekitar 20 kilometer dari Pusat Kota. Hanya kapal-kapal yang mengangkut bahan-bahan strategis seperti kelapa sawit dan semen, yang bersandar di sini.Bengkulu juga menyimpan potensi wisata yang dapat dikembangkan. Letak geografis, sejarah, budaya, dan kekhasan alamnya, adalah andalan yang dapat menarik minat pelancong.Pantai Panjang ini misalnya. Pantai yang membentang sepanjang tujuh kilometer dengan lebar 500 meter dari jalan raya ini dihiasi dengan jejeran pohon cemara.Berbagai aktivitas wisata atau rekreasi pantai dapat dilakukan di pantai yang memiliki pasir putih ini. Masyarakat Bengkulu biasa menghabiskan waktu di pantai untuk menikmati matahari terbenam atau melakukan sekdar berolahraga pantai. Ombak di Pantai Panjang ini meski tidak begitu besar namun relatif rawan untuk dijadikan lokasi berenang.Meski dipasang tanda peringatan dilarang berenang namun ada saja yang tak mengindahkannya. Transportasi umum cukup mudah untuk menjangkau Pantai Panjang. Jaraknya hanya sekitar tiga kilometer dari pusat kota.Bila ingin bermalam, di sepanjang pantai ini terdapat fasilitas penginapan seperti hotel dan cottage, lengkap dengan fasilitasnya. Untuk dapat menikmati keindahan pantai di Bengkulu dari ketinggian, Kami menuju ke sebuah menara yang terdapat di salah satu hotel berbintang di kota ini.Dari satu-satunya menara ini Kami dapat melihat kota Bengkulu dengan jelas. Beberapa objek wisata juga dapat dilihat dari sini. Antara lain Benteng Marlborough yang merupakan peninggalan sejarah pada masa penjajahan Inggris.Benteng ini dibangun tahun 1714 sampai 1719, pada kepemimpinan Gubernur Joseph Collet. Konon Presiden Soekarno pernah ditahan di salah satu kamar benteng ini oleh penjajah Belanda.Di benteng ini terdapat lorong bawah tanah yang tersambung ke Pantai Panjang dan Gedung Daerah. Masih ada lagi objek wisata Bengkulu yang dapat dilihat dari sini, Taman Laut Pulau Tikus.Pulau Tikus yang terletak di sebelah barat Kota Bengkulu dapat ditempuh satu jam dengan menggunakan speedboat dari Kota Bengkulu. Pulau Tikus yang luasnya satu setengah hektar, dikelilingi karang dan kaya dengan hutan yang cocok untuk berwisata.Karena berpasir putih, Pulau Tikus pada malam hari menjadi habitat penyu sisik dan penyu hijau yang naik ke darat untuk bertelur. Di kawasan laut Pulau Tikus ini terdapat lokasi yang aman untuk menyelam ke dasar laut. Tapak Padri juga salah satu bagian dari kawasan objek wisata Benteng Marlborough yang terletak di Pusat Kota Bengkulu.Kami menyusuri kawasan ini bersama pejabat Pemda Kota Bengkulu. Yang menarik, adalah saat memenadang ke laut lepas, terutama kala menjelang terbenamnya matahari. Rencananya Pemerintah Kota Bengkulu akan mencanangkan kawasan bertaraf internasional di lokasi ini.Diperkirakan dalam 2 hingga 3 tahun mendatang Tapak Padri sudah menjadi kawasan yang layak dikunjungi turis mancanegara. Pemerintah Kota Bengkulu akan mengelolanya secara profesional dengan melibatkan pihak swasta. Andalan lain yang dimiliki Bengkulu adalah kekayaan budaya.Budaya itu masih lestari….Satu diantaranya yang telah menjadi agenda tetap setiap tahunnya adalah perayaan tabot. Perayaan tabot di Bengkulu dilaksanakan selama 10 hari berturut-turut pada bulan Muharam.Perayaan ini merupakan peringatan atas gugurnya Husein, cucu Nabi Muhammad SAW di Padang Karbala saat melawan pasukan Yazid bin Muawiyah. Dalam rangkaian acara perayaan tabot biasanya selalu dirangkai dengan berbagai festival dan kesenian.Misalnya seperti pada perayaan tabot 2006 yang dilangsungkan di Lapangan Merdeka. Pada perayaan ini digelar festival dol, festival tabot, telong-telong dan seni tari.Kemeriahan festival tabot ini sudah terasa sejak beberapa hari sebelum acara berlangsung.Di beberapa sudut kampung, Kami melihat sekumpulan anak-anak yang tekun berlatih dol dan menari. Ada juga yang sibuk mempersiapkan diri untuk tampil di malam pembukaan tabot. Persiapannya terbilang serius, karena perayaan tabot kali ini digelar untuk tingkat propinsi. Biasanya hanya setingkat kota Bengkulu.Suasana pembukaan perayaan tabot berlangsung meriah, dengan panggung yang bernuansakan rumah adat Bengkulu.Tarian Bangkahullu Menjadi Pembuka ....Tarian adat pada malam bedendang ini menggambarkan kesukacitaan. Gerakannya dikembangkan dari lenggang Bangkahullu bercampur warna melayu. Pada malam ini tampil musik dol yang dipadu dengan suling dan tasa. Perpaduan harmonis alat musik dol dengan alat musik lainnya.Musik dol ini juga mengiringi tarian jari-jari menjara yang menggambarkan Husein, cucu Nabi Muhammad yang rela mati syahid melawan pasukan Yazid Bin Muawiyah di Padang Karbala.Ratusan obor bambu yang dipasang di sekeliling panggung menyatukan suasana meriah seremonial dan sakralitas ritual tabot. Belasan orang berjubah putih di panggung menambah kesakralan acara. Mereka akan melakukan prosesi ritual pengambilan tanah sebagai simbol dimulainya ritual tabot. Pentas lomba dol juga mewarnai festival tabot.Saat itu ada 14 kelompok yang ikut serta. Peserta ini bukan hanya remaja berusia 15 hingga 25 tahun, tapi juga anak-anak. Meski kedengarannya lagu yang mereka mainkan nyaris sama, namun masing-masing kelompok berusaha tampil maksimal dengan gaya andalan mereka.Ada yang menonjolkan sisi busananya. Ada juga yang mengedepankan alat musik yang dikolaborasi dengan dol. Lapangan Merdeka yang digunakan sebagai tempat diselenggarakannya festival tabot selama 10 hari tak pernah sepi dari pengunjung.Kesempatan ini digunakan para pedagang untuk meraup keuntungan. Ribuan pengunjung menyerbu 90-an stan yang berada di arena bazaar ini. Berbagai jenis produk dapat dijumpai, namun yang menarik perhatian kami adalah stan produk lokal seperti dol.Alat musik yang digunakan dalam prosesi tabot ini begitu diminati pengunjung yang memburu dol mini sebagai cinderamata.Produk lokal lain yang menurut Kmi bagus adalah kain besurek. Kain memiliki beberapa jenis bahan dengan harga antara 65 ribu hingga 650 ribu.Sayangnya kali ini kain basurek tidak begitu menarik minat pengunjung.Gemerlap lampu hias dari telong-telong terlihat menonjol di keriaan ini. Bentuknya mirip dengan lampion terbuat dari kertas.Tapi kali ini dibentuk lebih besar dari biasanya. Ada yang berbentuk rumah adat Bengkulu, bumi dan bunga rafllesia mekar. Untuk meramaikan suasana, setiap peserta melibatkan penari dan musik.Setiap telong-telong diikuti setidaknya 30 orang pendukung. Benda setinggi enam meter ini disebut tabot yang berarti kotak atau keranda. Tabot yang sedang diarak ini disebut arak gedang.Ini termasuk satu dari beberapa prosesi yang harus dijalani dalam perayaan tabot. Tabot yang telah lengkap karena telah naek pangkek ini diarak ke Lapangan Merdeka untuk menjalani prosesi selanjutnya, tabot besanding.Tabot besanding adalah ketika semua tabot sakral yang berjumlah 17 buah sudah lengkap dibariskan di lapangan ini. Pada malam ritual tabot besanding, Lapangan Merdeka menjadi lautan manusia. Selain menyedot perhatian masyarakat, acara ini juga dihadiri oleh sejumlah duta besar negara sahabat.Pada malam itu juga dicanangkan kawasan wisata bertaraf internasional di Bengkulu. Sirine dan luncuran kembang api dari Benteng Marlborough menandainya. Atraksi dol dan jari-jari karbala ditambah barisan tentara menabuh dol, menutup keriaan besar di Bengkulu malam itu.Usai festival tabot, Bengkulu kembali seperti semula. Seakan sepi ditinggal masyarakatnya yang bergulat dengan kesehariannya. Mereka, masyarakat Bengkulu tengah menggapai impiannya menjadikan daerahnya sebagai tujuan wisatawan melancong.Seakan berangan, bisa saja nanti para pelancong sebelum meninggalkan Bengkulu menyempatkan diri mampir ke sentra oleh-oleh khas Bengkulu, seperti yang Kami lakukan.Di kawasan ini menjual makanan dan cinderamata, seperti emping melinjo, kopi Bengkulu dan tabot mini. Yang juga banyak diminati adalah kue tat, kue yang terbuat dari tepung terigu, gula dan nanas. Katanya mirip nastar. Sebuah angan-angan yang bisa terwujud tak lama lagi. (Suprie)
Sumber: Indosiar.com>

Menapak Jejak Sejarah Suku Rejang


Perjalan untuk mendokumentasikan huruf-hurus kuno rejang (huruf ka ga nga) sebenarnya sudah lama saya lakukan yaitu pada bulan Januari-Febuari 2008. Bersama dengan teman-teman Gekko Studio kami berangkat ke Bengkulu. Dengan menggunakan mobil hiline long sasis yang kami beli di Bali pada bulan desember tahun lalu kami berangkat menuju Bengkulu, Tepatnya Bengkulu Utara kampung halamanku. Kami sengaja membeli mobil sendiri biar puas untuk muter-muter Bengkulu dan kedepannya jikalau ada perjalanan yang areanya masih sekitar jawa dan sumatera kami bisa menggunakan kendaraan sendiri biar lebih hemat. Hemat, belajar dari pengalaman disaat kita membuat sebuah film dokumenter tentang impact perkebunan sawit terhadap anak suku dalam di Jambi. Kami harus merental mobil hiline ini dengan harga 400 ribu perhari. Lumayankan kalo kita sewa selama 10 hari lebih plus BBM-nya.

Di Bengkulu selain membuat film dokumenter tentang keterancaman gajah sumatera yang ada di Bengkulu kami juga menyempatkan diri untuk berangkat ke Kabupaten Lebong dan Curup untuk survey mengenai keberadaan tulisan rejang (huruf ka ga nga) dan sejarahnya. Perjalanan ini juga merupakan perjalanan ritualku karena akan menelusuri sejarah persebarang suku rejang yaitu suku saya sendiri. Selama ini saya yang terlahirkan dari keturuanan asli rejang saya tidak pernah tahu sejarah persebarannya. Norak ngga ya :)

Tulisan ini adalah saya kembangkan dari hasil wawancara dengan Pak Salim, salah satu tokoh adat yang ada di Desa Topos, Kabupaten Lebong. Salah satu kampung tertua yang ada di Lebong yang terletak di hulu sungai ketahun. Karena saya terlebih dahulu harus mencatat hasil-hasil wawancaranya disela-sela rutinitas yang ada dan sekaligus mencoba untuk mentransletnya (berhubung wawancaranya menggunakan bahasa rejang), jadi yah beginilah jadi lama saya menulisnya ke blog ini. Hasil-hasil wawancara ini saya coba rangkai dan kembangkan agar enak dibaca. Mohon maaf jikalau nanti bahasanya masih ada yang kaku dan lompat-lompat serta ada beberapa bahasa yang tidak mampu saya terjemahkan.


Sejarah Rejang

Asal mula masyarakat rejang yang ada di Bengkulu menurut cerita nenek mamak atau orang-orang tua (Pak Salim dan Masyarakat Topos) adalah pertamanya ditemukan di Desa Siang, muara sungai ketahun. Pada masa itu pemimpin masyarakat rejang adalah Haji Siang. Dimana sebelum Haji Siang, lima tahap diatas Haji Siang orang rejang sudah ada. Pada masa haji ini ada emapat orang haji yaitu Haji Siang, Haji Bintang, haji Begalan Mato dan Haji Malang. Karena mereka berempat tidak bisa memimpin dalam satu daerah, akhirnya mereka membagi wilayah kepemimpinan. Haji Siang tinggal di Kerajaan Anak Mecer, Kepala Sungai Ketahun, Serdang Kuning. Haji Bintang ada di Banggo Permani, manai menurut istilah rejangnya yang sekarang terletak di Kecamatan Danau Tes. Haji Begalan Mato tinggal di Rendah Seklawi atau Seklawi Tanah Rendah. Kerajaan Haji Malang bertempat tinggal diatas tebing, sekarang namanya sudah menjadi Kecamatan Taba' Atas.

Dalam keempat kepemimpinan ini mereka ada sebuah falsafah hidup yang diterapkan yang itu pegong pakeui, adat cao beak nioa pinang yang berartikan adat yang berpusat ibarat beneu. Bertuntun ibarat jalai (jala ikan), menyebar ibarat jala, tuntunannya satu. Jika sudah berkembang biak asalnya rejang tetap satu. Kenapa ibarat beneu? beneu ini satu pohon, tapi didahan daunnya kait-mengait walaupun ada yang menyebar atau menjalar jauh. Walaupun pergi ketempat yang jauh tapi tahu akan jalinan/hubungan kekeluargaannya. Bisa kembali lagi darimana asal mereka berada.

Pegong pakeui juga mengajarkan bahwa kita sebagai manusia mempunyai hak yang sama. Jika kita sama-sama memiliki, maka kita membaginya sama rata. Jika kita menakar (membagi), misalnya membagi beras, kita menakarnya sama rata atau sama banyaknya. Jika kita melakukan timbangan, beratnya harus sama berat. Itulah pegong pakeui orang rejang. Amen bagiea' samo kedaou, ameun betimbang samo beneug, amen betakea samo rato. Artinya jika membagi sama banyak, jika menimbang sama berat, jika menakar sama rata). Itulah cara adat rejang.

Dengan persebaran dan berkembang biaknya dari empat kerjaan ini mereka mencari tempat-tempat di kepala air (hulu sungai) untuk dijadikan tempat tinggal. Seperti yang ada sekarang ini yaitu Rejang Aweus, Rejang Lubuk Kumbung yang ada didaerah Muaro Upit, Rejang Lembak (Lembok Likitieun, Lembok Pasinan) dan termasuk juga Rejang Kepala Curup. Dasar persebaran ini adalah dari Rio (belum jelas Rio ini siapa dan keturunan darimana). Dipercaya Rio berasal dari Desa Topos yang pecahan kebawahnya adalah Tuanku Rio Setagai Panjang. Rio Setagai Panjang ini memiliki tujuh orang bersaudara dan berpencar untuk mencari tempat tinggal. Diantara dari tujuh Rio tersebut dan persebarannya di Bengkulu adalah sebagai berikut:
1. Rio Tebuen ada di Desa Lubuk Puding, Pasema Air Keruh
2. Rio Penitis ada di Curup. daerah Selumpu Sape
3. Rio Mango' keturunannya sekarang mulai dari Pagar Jati sampai ke hulu nya yaitu Desa Gading, Padang Benar dan Taba Padang
4. Rio Mapai sekarang keturuanannya ada di Kecamatan Lais, itulah asal orang rejang yang terletak di bagian utara

Suku Rejang memiliki lima marga, yaitu Jekalang, Manai, Suku Delapan, Suku Sembilan dan Selumpu. Lima marga inilah sekarang yang ada di tanah rejang yang ada di Bengkulu. Jika ada yang pindah ketempat lain mereka akan tetap berdasarkan lima marga tersebut. Walaupun mungkin banyak orang-orang rejang yang ada di Bengkulu sudah tidak tahu lagi mereka masuk kedalam marga apa. Dikatakan oleh orang tua dahulu pecua' bia piting kundei tanea' ubeuat, pecua bia' piting kundei tanea' guao', istilah rejangnya mbon stokot, 'mbar-mbar ujung aseup, royot kundeui ujung stilai. Artinya masih ada asal usul yang menyangkut tanah lebong, walau dia berpencar kemanapun. Dari kepercayaan yang ada, mereka percaya asal mula rejang itu satu. Tidak ada bibitnya (asal usulnya) dari orang lain. Semuanya berasal dari Ruang Lebong atau Daerah Lebong yaitu dari Ruang Sembilan Sematang. Walaupun sekarang orang rejang atau suku-suku rejang sudah menyebar dipelosok nusantara ini ataupun diluar negeri sekalipun.



Cara Adat Rejang yang sudah menghilang

Seperti halnya dengan suku-suku lain yang ada di nusantara ini, suku rejang juga memiliki adat dan budaya dalam melakukan beberapa kegiatan ataupun upacara adat. Salah satunya adalah cara untuk menikahkan anak dan adat untuk membayar nazar jikalau kita ingin membayar nazar atau hutang. Cara yang dilakukan adalah memakai sesajen untuk berkomunikasi dengan pada arwah-arwah atau penghulu-penghulu kita yang sudah pergi. Kita memberi tahu jika kita ingin membayar nazar aatu ingin mengadakan pernikahan anak kita. Sesajen ini biasanya dengan menyertakan ayam yang dalam bahasa rejangnya disebut mono' biing.

Pada zaman dahulu, sebelum memakai benih untuk menanam harus mengundang benih terlebih dahulu, yang disebut bekejai binia'. Benih ini ditaroh didalam tadeu (sejenis keranjang yang terbuat dari rotan atau bambu). Ngekejai (belum jelas apa/siapa ngekejai) memanggil malaikat jibril, israfil, mikail dan juga para dewa. Jika jumlah benih yang ada didalem tadeu semakin banyak jumlahnya berarti ada harapan hasil panen akan banyak dan ada rezeki nantinya. Namun jika benihnya tidak bertambah banyak jumlahnya mungkin pertanda hasil ladang kita tidak akan maksimal hasilnya. Jika ingin memotong bambu itu bagi orang rejang ada pantangannya, begitu juga jika ingin membuka hutan. Jika kita ingin membuka hutan kita harus menabeues, menyatakan maksud kita kepada yang menjaganya. tanea' talai istilahnya, tukang ngembalo tanea' dunionyo (penjaga tanah di dunia ini). Tuhan tidak hanya menurunkan sesuatu ke bumi ini tanpa ada yang menjaganya. Jika kita ingin membuka lahan disuatu area tersebut kita tancapkan sebuah pancang. Jika diarea yang kita beri tanda tidak menyahut atau ada pertanda yaitu misalnya berupa binatang mati atau berupa darah, berarti kita harus membatalkan niat kita untuk membuka lahan disana dan pertanda bukan rezeki kita disana, melainkan tanda bala' yang memanggil kita.

Dalam menanam padi, jika terdapat hama dalam tanaman tersebut seperti hama pianggang, senangeuw, luyo atau luyang dalam bahasa rejannya, mereka membasmi dengan memakai daun sirih dengan cara menyemburkan air daun sirih tersebut sewaktu sore hari menjelang maqrib. Dalam tiga kali semburan dalam waktu senja hama itu bisa pergi. Dengan kekuasaan Tuhan mahkluk ini bisa pergi. Pada zaman itu tidak mengenal pestisida ataupun racun. Karena mereka percaya, jika niat kita jelek untuk membasmi mahkluk Tuhan, maka timbal baliknya adalah bencana. "Sebab niat kita mau membasmi mahkluk Tuhan, sedangkan cara adat itu di jampi, nidau kalo dalam bahasa rejang, disusur darimana asalnya, baliklah ke tempat asalnya" terang pak salim kepadaku karena sekarang sudah banyak yang menggunakan racun pestisida dalam membasmi hama.

Jika orang rejang ingin membuat rumah untuk tempat tinggal, terlebih dahulu mereka memilih jenis kayunya. Misalnya kayu meranti, kayu semalo, kayu medang. Cara untuk mengambil kayu tersebut pun ada aturan adatnya, yaitu jika tumbangnya mengarah ke kepala air atau mengarah mata air, atau menusuk ke leko' itu tidak boleh diambil. Itu tandanya celaka dalam arti kita sebagai orang rejang. Rumah yang sudah kita bangun dan setelah kita huni kita akan jatuh sakit ataupun meninggal dunia. Meninggal dalam artian bukan karena rumah tersebut, tapi karena celaka atau musibah, banyak masalah yang datang. Kemungkinan hidup kita akan susah setelah itu karena kayu yadi membawa bencana. Bagusnya dalam membangun rumah adalah jika kayu yang kita ambil tumbangnya mengarah ke desa atau kampung. "Inilah 100% sebagai tanda-tanda yang bagus untuk kita membangun rumah" ungkap pak salim.

Sebelum adanya masa orde baru atau Rezim Suharto, ditanah rejang masih dikenal dengan sistem kepemimpinan yang dipimpin oleh Kepalo Banggo (Kepala Marga) atau raja bagi masyarakat rejang. Kepala Marga memegang dua pernanan, yaitu menjalankan roda pemerintahan dan juga menjalankan sistem-sistem adat yang ada karena dialah raja dari adat. Antara tahun 1977-1978 kepala marga ditanah rejang dihapus dan digantikan dengan sistem pemerintahan yang ada yaitu camat, kepala desa dan turunannya. Kepala marga diganti dengan Camat. Setelah sistem kepala marga diganti, masyarakat adat seperti ayam kehilangan induknya. Banyak cara-cara adat yang sudah tidak diterapkan lagi dan budaya-budaya serta kearifan lokal perlahan memudar. Orang-orang pemerintahan tidak paham dan mengerti akan cara-cara adat. Dan disebutkan bahwa inilah awal dari kehancuran budaya dan adat istiadat rejang yang ada sekarang ini.

Hilangnya adat istiadat, hilangnya budaya asli rejang juga memudarkan sebuah ajaran rejang mengenai pegong pakeui. Saat ini berbagi sudah tidak mau lagi sama banyak, menimbang tidak mau sama berat, menakar sudah tidak mau lagi sama rata. Siapa yang berkuasa dan gagah itulah yang memegang kekuasaan. Manusia dalam berprilaku sudah tidak terkontrol lagi yang akhirnya mendatangkan bencana bagi manusia itu sendiri.

"Itulah penyebab yang mendatangkan banjir, karena manusia membabi buta dalam membuka hutan. Tidak mengikuti aturan lagi, tebing dibuat lahan, nah itulah barangkali hutannya bakal rusak. Kalau zaman saya hingga bapak saya keatas, zaman nenek saya tidak pernah rusak. Dijamin tidak ada yang rusak hutannya" tegas pak salim yang membuat saya kagum akan semua penjelasan beliau